wajib bagi kita untuk mempertahankan makna itu. agar tidak ada yang namanya rutinitas.
akhirnya bertemu dengan moment dimana saya akhirnya membuka pintu yg harusnya saya tutup rapat-rapat. keluar dari comfort zone, ternyata lumayan bikin sedih, tapi gapapa. untunglah saya bukan tipe orang yang suka menyesal, jadi walaupun sy hafal siklusnya, bahwa setelah ini — karena kecerobohan saya yg tidak benar-benar menjaga comfort zone nya — akan ada 1-2 tangisan, banyak sakit hati dan mungkin letupan kecemburuan. berita baiknya, Allah selalu janjikan lebih banyak tawa, luapan bahagia, juga lautan makna dibalik itu semua. dan tentu saja selangkah lagi lebih dekat dengan cita-cita saya untuk dewasa. karena tugas kitalah untuk berkonsentrasi dengan hadiah-hadiah Allah sekarang yang sesungguhnya adalah akumulasi hadiah-hadiah masa lalu untuk segala macam rencana nanti di depan.
maka untuk ruangan dibalik pintu yang terbuka tadi, apapun yang ada di dalamnya adalah anugrah. waktunya saya mendewasakan diri untuk menghargai semua maknanya, dan menaklukan setiap sudutnya sampai tiba waktunya ruangan itu tidak asing lagi, sampai tiba waktunya ruangan itu adalah zona nyaman saya.
karena sekarang, di ruangan inilah saya akan dipaksa berlatih untuk ruang-ruang berikutnya, dan setelah saya hafal semua lekuknya, maka saya akan sebebas biasanya.
ingin pulang, terus nangis sehari-semalem di kamar, sendirian *lebay oge sih*. i hate period and its hormone-dependent-mood (-__-)
(via agita)
malam ini sy memejamkan mata sebentar, membayangkan
pergi sekolah, naik motor, dibonceng bapak. jam menunjukkan oukul 05.50. jalan nya jelak, banyak berlubang. bapak lumayan ngebut. sy pasang earphone, mendengarkan lagu westlife sambil nyanyi-nyanyi.
sampai di jl. kalimantan, 06.25, turun dari motor, salam sama bapak, noleh serong kiri dan melihat wajah2 sejelas yang pengelihatan minus sy izinkan, ngintip dari jendela. lurus, belok kiri, belok kiri-naiktangga, sampe aula, belok kiri, banyak anak-anak kelas lain nongkrong di depan kelasnya masing-masing, lurus, masuk kelas, taroh tas di tempat yang ada tas wanda atau tas dicilnya, pergi ke jendela dan ikut mengintip gerbang masuk.
jam 06.30, bel yg teramat sangat ribut dan panjang bunyi, lalu di cuekin. guru blm ada yg masuk, beberapa anak belajar, UN-SNMPTN sudah dekat. guru masuk, semua duduk. lalu rifqi bilang “sikap, berdoa mulai!”, kemudian hening, “berdoa selesai!, beri salam!”, “assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh”
ngeluarin buku ssc, pensil mekanik, kertas hvs, binder. di depan ada wanda dan etha, di samping ada dicil, depannya etha sama wanda ada gene dan yovan. dan belajar, latihan soal, ga merhatiin guru, belajar sendiri, terus gangerti, skip, ntar tanya zhafir.
jam istirahat, ke bawah, koridor, belok kanan, kopgur, beli ayam2 an dan sushi beruang, keluar dari kopgur, belok kanan, belok kanan, lurus, sampe MA, lalu ritual. bel bunyi, balik lagi ke kelas.
duduk lagi, soal lagi, gangerti lagi, skip lagi, tanya zhafir lagi. lalu jenuh. keliling kelas, liat yang lain belajar apa, kalo beruntung, bakal ada yg tergoda buat berhenti belajar dan ngobrol nyampah. voting, hari ini pulang sekolah mau ke rumah siapa? disana mau belajar apa? mau nonton apa?
istirahat siang. turun, solat dzuhur, ke bazar samping, pesan baso tahu. lalu ke atas lagi, konsentrasi sudah pecah, banyak yg istirahat belajar, mainmain di kelas. makin siang biasanya guru makin sepi.
pulang. packing tas. ke perpus. sepi. ambil box yg paling deket pintu, sebentar kemudian ada gene nyusul. dan kembali, soal, dan kertas kotretan. sampe sore, atau sampe ssc, sampe bosen, sampe diajak pergi ke rumah orang, kadang sampe perpus tutup. lalu pindah ke depan rangka, dan soal lagi.
jam 16.30, dijemput bapak. pulang. hari yg saya bayangkan tidak ada jadwal les ssc nya.



